Ngayau adalah salah satu tradisi berburu kepala yang dilakukan oleh suku Dayak.
Para pemburu di Borneo aktif sampai sekitar satu abad yang lalu. Berbagai suku kayau bagian utara pulau Borneo, termasuk suku Dayak Iban, Murut, dan Kadazan-dusun membawa rasa takut pada Kolonialis Inggris awal. Britain Victoria menyebutnya tanah “Barbaric Borneo” yang cocok untuk sifat suku pribumi. Beberapa mengumpulkan kepala prajurit musuh untuk mengambil pulang sebagai piala atau bukti kemenangan mereka.
Yang lain harus membunuh dan membawa tengkoraknya kembali ke desa untuk izin untuk menikah. Terlepas dari motif, praktek berburu di Borneo memiliki keduanya tertarik dan menanamkan rasa takut pada orang luar selama beberapa generasi. Pengunjung bisa memasuki bekas rumah panjangnya dan melihat tengkorak masih menggantung dari atap. Bahkan hari ini, masyarakat pedesaan masih terlihat setelah kepala yang ditangkap oleh nenek moyang mereka.
Suku Dayak Iban menjadi suku pemburu kepala yang paling ditakuti oleh Suku Dayak lainnya pada masanya.
Konon ada cerita menurut tetek tatum di mana dahulu suku Dayak Kalteng, awalnya berdiam di daerah hulu sungai Mahakam lalu berpindah ke daerah hulu sungai Kahayan karena ngeri nya para Kayau bagian utara pulau Kalimantan.
Kendati tradisi Ngayau di Kalimantan sudah ditiadakan karena perjanjian Tumbang Anoi, pada 2001 saat bentrokan di Sampit antara Suku Dayak dengan Suku Madura yang merupakan pendatang, tradisi mengerikan itu seperti kembali dilakukan.

Comments
Post a Comment