Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2020

Sekilas tentang perburuan kepala di Borneo

Ngayau adalah salah satu tradisi berburu kepala yang dilakukan oleh suku Dayak. Para pemburu di Borneo aktif sampai sekitar satu abad yang lalu. Berbagai suku kayau bagian utara pulau Borneo, termasuk suku Dayak Iban, Murut, dan Kadazan-dusun membawa rasa takut pada Kolonialis Inggris awal. Britain Victoria menyebutnya tanah “Barbaric Borneo” yang cocok untuk sifat suku pribumi. Beberapa mengumpulkan kepala prajurit musuh untuk mengambil pulang sebagai piala atau bukti kemenangan mereka. 

Masyarakat Adat Dawar rebut kembali hak Ulayat yang di Rampas Negara

Direktur Eksekutif Walhi Kalbar Nikodemus Ale Mengatakan Kepada Media ini Sabtu (25/7/2020),” Hutan Adat yang diklaim masuk Cagar Alam bisa kembali kepada masyarakat karena saat ini syarat untuk memgeluarkan Cagar Alam di Kabupaten Bengkayang sudah memiliki payung hukum yaitu Perda Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat. Memurut Nikodemus Ale yang paling utama untuk mengembalikan Hutan Adat adalah kekompakan masyarakat Dusun Dawar yang didukung dengan peta wilayah adat hasil pemetaan partisipatif. Sebab organisasi yang memperjuangkan hak masyarakat adat seperti AMAN, WALHI ,LEMBAH hanya bersifat memfasilitasi dan mengawal hingga masyarakat memperoleh haknya. https://lm.facebook.com/l.php?u=https%3A%2F%2Fbatasupdates.wordpress.com%2F2020%2F07%2F25%2Fmasyarakat-adat-dawar-rebut-kembali-hak-ulayat-yang-di-rampas-negara-2%2F&h=AT0VUS2GLj3uceZY9v65aUBD7vexHLKFWAp9WHJJi6_ItKWRqRwh7Rs9m5QsR1ctjWeM0aHwcMccUEwkx9MfDeSou3ZoWcJudNkLwj0f6kKFg3h6NQZyqkFLcWPgsc1Bmu4&s=1 https://www...

Tragedi Sampit adalah peristiwa kelam yang jangan sampai terulang

Suku dayak adalah suku yang mendiami pulau kalimantan. Masyarakat Dayak memiliki tali saudara dengan Suku Banjar. Keduanya konon berasal dari kakak beradik, dimana sang adik tinggal di keramaian dan menjadi suku Banjar, sementara sang kakak memilih hidup dengan alam rimba dan menjadi asal muasal suku Dayak. Namun keduanya memang bagaikan sebuah tubuh yang tidak bisa dipisahkan.

TIMBANGAN DI ZAMAN KESULTANAN BANJAR

Koleksi elok di Museum Nasional Indonesia adalah timbangan antik berukir indah setinggi manusia dewasa. Timbangan ini dahulu digunakan untuk membayar pajak hasil bumi di zaman Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan. Konon yang menjadi anak timbangan adalah Sultan Banjar sendiri. Timbangan adalah lambang keadilan, dan kejujuran dari pemiliknya. Ada pula yg menyebutkan Anak timbangan adalah Sang pembayar pajak, jadi pajak yg dia bayar sama dengan berat badan pembayar pajak.  Tahun pemakaian tidak disebutkan...jika ada yg mengetahui silahkan tambahkan. #FolksOfBanjar #KesultananBanjar

PEDANG JENAWI - PEDANG MELAYU YG BERASAL DARI BANJAR

Riau, merupakan salah satu provinsi yang berada di Pulau Sumatera. Begitu banyak hal yang menarik untuk diamati dan diteliti, salah satunya adalah kebudayaan. Provinsi ini memiliki ciri khas tersendiri yaitu kebudayaan melayu. Salah satunya senjata tradisional Pedang Jenawi misalnya. Sepanjang sejarah, Pulau Sumatera memiliki banyak Kerajaan-kerajaan besar diberbagai daerahnya.  Kerajaan tersebut mulai dari Kerajaan Sriwijaya hingga Kerajaan Melayu yang wilayah kekuasaannya membentang hingga semenanjung Malaysia. Kerajaan Melayu pada masa lalu memiliki angkatan bersenjata yang cukup disegani dan memiliki berbagai persenjataan termasuk pedang. Senjata tradisional yang dimiki oleh Riau tentunya sangat banyak, namun yang dibahas disini adalah Pedang Jenawi.  Pada zaman dahulu, senjata digunakan sebagai alat untuk melindungi diri dari ancaman lingkungannya, Seperti halnya untuk melawan binatang buas atau untuk kelengkapan berperang melawan Kerajaan lain. #FolksofBanjar #PedangJe...

Banjar - Orang Sungai

Dikemas dengan ratusan jukung yang mengapung di sekitar perahu kecil dengan tumpukan sayuran, buah, ikan segar yang ditata dengan rapi, dan barang-barang lainnya untuk dijual. Kegiatan dimulai tepat setelah matahari terbit kurang lebih tiga jam. Ratusan penduduk desa berkumpul setiap hari dan berdagang barang dagangan mereka seperti yang telah mereka lakukan selama ratusan tahun di Sungai Barito. Sejarah kota ini dimulai sejak 488 tahun, ketika pada 1526, Sultan Suriansyah mendirikan kerajaannya di hulu Sungai Barito. Kotamadya Banjarmasin terletak hanya 22 kilometer dari Laut Jawa dan beberapa bagian kota sekarang sebenarnya di bawah permukaan laut, bukan situasi yang menguntungkan di zaman perubahan iklim saat ini. Namun, orang-orang Banjar telah beradaptasi dengan baik dengan lingkungan mereka, membangun tempat tinggal mereka yang sederhana - yang dikenal sebagai lanting - di atas papan kayu semi mengambang yang naik turun dengan pasang surut. Struktur kokoh dibangun di atas panggun...